Archiv für Juli 2006

Kaliadem

Juli 27, 2006 - Volker Dally
Hari ini hari sangat mengesankan. Jam delapan kami berangkat untuk darmawisata ke Kaliadem. Sejak minggu ini Ibu Katja dan saya punya kelas sendiri, jadi kami bisa pergi dengan dua guru. Guru Mas Geger, guru Mas Totok dan sopir Mas Heru menjemput kami di rumah kami di Jalan Pringgodani. Bersama-sama kita naik mobil ke gunung Merapi.
Ketika naik mobil saya membeli koran dan mulai membaca koran ini. Di halaman tentang Yogyakarta saya membaca bahwa dua orang ditemukan di pantai. Mereka meninggal karena Tsunami minggu lalu. Sesudah koran bacakan saya kepada Ibu Katja, kami menetuskan bahwa akhir minggu ini kami tidak pergi ke pantai. Kalau pembaca weblog ini tahu tempat bagus lain, tolong memassukan ide dengan komentar di bawah.
Kira-kira jam setengah sepuluh kita sampai di Kaliadem. Sesudah turun mobil untuk pergi sedikit dekat gunung Merapi kita punya masalah. Masalah ini karena di sana ada tulisan yang bilang bahwa pakaian warna merah, kuning dan orange dilarang. Astaga, baju merah atau kuning terpakai semua keluarga Dally. Untunglah ada satu sweater di dalam mobil. Sweater ini harus dipakai Ibu Katja Ibu Volker dengan pulllover merasa panas sekali
dan saya sudah mengenakan t-shirt putih yang biasa dipakai di bawah baju kuning. Jona dan Lea boleh pergi ke tempat dengan warna dilarang.
Dengan guru Geger dan pemandu lokal, Totok harus memfotoPada tempat itu kami melihat kekuatan gunung Merapi. Semua tempat menyelebungi dengan abu dan batu-batuan dari letusan gunung Merapi tanggal 14 Juni. Dari rumah-rumah yang tersisi di sana Anda hanya bisa melihat atap-atap. Hanya Atap-atap yang Terlihat Pengunjung
Dan awan panas membuat jalur besar pemisah antara dua bagian pepohonan di tengah hutan karena batu-batuan dan api. Ibu Katja dan saya merasa tergesankan ketika kami mendengarkan suara dari gunung Merapi. Meskipun jauhnya 5 kilometer kami bisa mendengarkan Merapi bergemuruh. puncak merapi Jona dan Lea dengan mask
Sesudah melihat tempat ini kami pergi ke sungai kecil, saya pikir nama kali kuning untuk perjalanan kaki dengan anak-anak dan guru-guru. istirahat ketika perjalanan Bermain di pinggir sungai
Akhirnya kami harus menyelesaikan perjalanan ini karena waktu yang tepat untuk makan siang. Sambil makan siang semua orang dewasa menerima panggilan telepon oleh teman-teman, teman kerja atau pacar. Kita punya banyak kelakar di restoran karena aktivitas telepon. sesudah perjalanan dan sebelum makan siang
Kami bersenang-senang hari ini. Terima kasih Geger, Totok dan Heru.
Terima kasih Tuhan yang memberkati kita.

Peserta di Sidang Majelis Agung in Madiun

Juli 27, 2006 - Volker Dally
Empat minggu lalu saya menerima sepucuk surat dari GKJW (= Gereja Kristen Jawi Wetan). Surat ini dikirim Pak Tjondro yang bekerja sebagai sekretaris GKJW selama bertahun-tahun meskipun dia masih muda. Saya pikir bahwa umur dia tidak lebih tua daripada 35 tahun. Surat itu dia tulis untuk informasi tentang Sidang Majelis Agung di Madiun, tanggal 29 Juni sampai 04 Juli 2006. Pak Tjondro menulis juga bahwa pimpinan GKJW mengundang saya.

Meskipun saya harus belajar bahasa Indonesia di WB setiap hari, kecuali akhir minggu, saya mau pergi ke Madiun.
Tetapi bagaimana? Setahu saya wakil ketua Gereja Kristen Jawi Wetan/Gereja Kristen jawa Timur (GKJW) tinggal di Yogyakarta. Namanya Pak Budyanto. Dia bekerja sebagai direktur universitas Duta Wacana dan saya sudah bertemu dia. Jadi saya menelpon dia dan bertanya apakah dia pergi ke sidang di Madiun. Dia bilang bahwa dia sudah pergi hari rabu tgl. 28 Juni ke Madiun dengan mobilnya. Dan dia bilang juga bahwa, kalau saya mau, saya bisa pergi berikut dia. Saya senang sekali karena kesulitan saya untuk transportasi dipecahkan.
Hari Rabu tgl. 28 Juni jam dua siang saya dijemput oleh Pak Budyanto dengan mobil di rumah homestay Heru. Sesudah kita memuatkan koper saya ke mobilnya kita berangkat. Mulai dari sekarang saya punya pelajaraan keras: selama empat setengah jam saya harus berbicara bahasa Indonesia karena saya tidak bisa turun mobil. Untunglah Pak Budyanto seorang pintar yang tahu bahwa saya hanya belajar bahasa Indonesia selama empat minggu. Oleh karena itu dia berbicara jelas dan pelan jadi saya mengerti dia bagus.
Ketika kita pergi ke Madiun kita mendiskusikan tentang gempa bumi di Yogyakarta dan baigamana GKJW dan universitas Duta Wacana mencoba membantu orang-orang di Yogyakarta khususnya baigamana mereka menolong Kristen sesudah pertolongan pertama kepada semua orang. Misalnya mereka membantu umat kristen yang gerejanya rusak. Di satu bagian di kota mereka membangun gereja dari bambu. Hari-hari berikutnya ini saya mau mengunjungi gereja itu.
Sesudah empat jam percakapan ketika naik mobil kita sampai di Madiun. Di sana kita mencari tempat untuk Sidang Majelis Agung, tetapi Pak Budyanto harus bertanya beberapa kali untuk jalan itu yang betul. Akhirnya kita sampai di tempat tujuan jam setengah tujuh. Saya lelah sekali dan sesudah mandi dan makan malam saya pergi ke hotel. Langsung saya tidur di sana.
Hari berikutnya sesudah sarapan saya naik becak ke stasiun kereta api. Karena Pak Budyanto harus tinggal di Madiun sampai Sidang Majelis Agung (SMA) selesai, tetapi saya harus kembali ke Yogyakarta untuk pelajaran di Wisma Bahasa saya sudah mau membeli karcis kereta api dari Madiun ke Yogyakarta pada hari minggu. Karcis Sancaka yang berangkat hari minggu pagi saya beli.
Sesudah pembelian karcis saya pergi ke Sidang Majelis Agung. Di mana saya mengambilbagian dewan Personalia Majelis Agung. Mula-mula saya harus memperkenalkan diri. Sesudahnya ketua bertanya saya apakah saya siap untuk pelantikan sebagai pendeta GKJW pada hari minggu. Pertanyaanya sama sekali tidak saya duga. Tetapi dia menjelaskan bahwa semua pendeta bekerja di GKJW selalu harus dilantik ketika SMA. Kalau saya tidak siap, saya harus menunggu sampai SMA depan. Tetapi saya tidak mau menunggu sampai tahun depan karena saya tidak bekerja sebagai pendeta sejak lama. Sejak saya tahu bahwa saya pindah ke Indonesia saya sudah tidak bekerja hanya belajar selama tujuh bulan tentang budaya dan bahasa Indonesia dan di Jerman saya bersiap-siap untuk menghadapi perpindahan keluarga saya. Saya setuju atas usul dari ketua Pak Drijandi meskipun saya tahu bahwa saya belum berbicara bahasa Indonesia lancar, tetapi mungkin cukup untuk pentahbisan.
Mulai dari sekarang saya mempersiapkan untuk ibadah hari minggu. Oleh karena itu pertama karcis kereta api saya harus ditukarkan oleh seorang dari GKJW Madiun. Saya juga harus pergi ke toko foto untuk foto-foto karena untuk surat piagam foto diperlukan dalam piagam.
Kemudian saya belajar Tata Ibadah sehingga saya bisa jawab bila ketua bertanya pendeta baru di ibadah. Selain daripada itu jubah diatur secretaris kepada saya.
Sesudah tiga hari mempersiapkan saya mengalami ibadah sangat bagus.
Tetapi ibadah itu ada cerita berbeda.

Laporan Pendek Tentang Kunjungan Kraton, Khususnya Untuk Guru Geger

Juli 25, 2006 - Volker Dally
Sesudah tinggal di Yogyakarta selama dua bulan,minggu lalu kami memutuskan bahwa kami harus mengunjungi Kraton Yogya. Jadi kami bertanya Mas Agung untuk darmawisata minggu ini.
Tiga hari lalu, Hari Senin, kami melihat ketika membaca jadwal bahwa kami pergi ke Kraton dengan guru Geger Hari Kamis.
Sekarang, jam empat sore Hari Kamis, saya mengetik laporan sesudah pulang.
Tadi pagi sesudah sessi 1 Ibu Katja, anak-anak dan saya berangkat dengan sopir Mas Heru dan guru Mas Geger dari Wisma Bahasa I ke Kraton. Sebelumnya Geger memberi harapan akan menjadi pemandu untuk anak-anak di Kraton. Oleh karena itu kami bisa mengunjungi Kraton dengan pemandu Kraton sementera Geger menjelaskan Kraton kepada Jona dan Lea di bahasa Inggris.
Pertama-tama karcis Kraton dibeli Geger. Ketika kami sampai di pintu masuk sudah ada pemandu untuk Katja dan saya. Biasannya di Kraton ada pemandu yang berbicara bahasa Jerman tetapi sekarang Kraton dijelaskan pemandu kami dalam bahasa Indonesia. Saya pikir pemandu diinstruksikan guru Geger berbicara bahasa Indonesia. Tidak apa apa, kami sudah mengerti cukup bahasa Indonesia.
Pertama kami pergi di pintu Danapratapa. Di depan pintu ada dua patung besar sebagai penjaga. Kraton dijaga oleh penjaga pintu gerbang ini, yang kiri baik dan yang kanan jahat, padahal penjaga ini dari batu . Di dalam Kraton kami melihat rumah Sultan X, ruang pesta dan ruang makan. Kami pergi ke museum juga dan pemandu memberi banyak informasi tentang Sultan sekarang dan Sultan dulu. Terlalu banyak informasi untuk weblog ini. Sesudah satu setengah jam kami selesai kunjungan kemudian pergi ke FM Cafe untuk makan siang. Kami bersenang-senang hari ini. Terima kasih Geger dan Heru.