Aku manggon neng Malang

June 27, 2008 - Volker Dally
Aku manggon neng kutha Malang, Jawa Wetan, kutha sing apik banget katimbang kutha liyane neng Jawa. Kutha Malang wis dibangun wektu Walanda lan dina iki isih ana akeh omah saka wektu kuwi. Wong-wong sing lunga menyang Malang isa ndelok piye wong Landa urip senajan wong Jawa ora (utawa durung) isa urip kanthi apik.
omah lurah Malang kathedral mesjid neng Alun-alun
Isih padha dina iki. Wong Jawa sing sugih urip neng omah sing gedhe, kaya omah-omah wektu Kolonial, senajan wong Jawa lumrah kudu urip neng omah sing cilik utawa wong Jawa sing mlarat urip neng omah elek cedhak kali. Uripa mengkene, akeh-akehe wong Malang seneng.
Cacahe wong Malang kira-kira 1 yuta senajan ana wong-wong sing kandha cacahe saiki wis 1,5 yuta lan iki utawa taun ngarep Malang arep dadi taun kutha sing gedhe banget, kutha gedhe nomor 4 neng Indonesia.
Senajan mangkono Malang kuwi kutha sing ijo lan resik. Ora ana akeh sampah amarga wong Malang ora ngregedi kuthane dhewe sing ditresnani. Amarga Malang ijo banget, ana jenenge liya "Malang kutha kembang", lan mesthi ana pasar kembang sing gedhe banget lan akeh pasar liyane uga. Pasar sing daksenengi banget yaiku pasar manuk lan pasar iwak.
pasar gedhe
Ana akeh papan sing kondhang neng Malang. Ing Malang ana akeh greja lan mesthi akeh mesjid. Nanging swasanane adate apik. Akeh papan parwisata sing isa diketemuake menawa wong-wong kepengin libur neng Malang. Papan kaya viara utawa puri, gunung api kaya Bromo, Semeru, Kelud utawa Arjuna, akeh papan agrowisata neng Batu utawa wilayah Bromo lan Semeru lan uga akeh papan banyu panas.
Viara neng Batu Broma lan Semeru Kelud taun 2007 Kelud taun 2008 kelud taun 2008 anak Kelud
Amarga mangkono, akeh wong asreng libur neng Malang. Mung ana siji hotel saka Indonesia sing isa mlebu daftar "100 leading hotels of the world" ana neng Malang uga, jenenge "Hotel Tugu".
Wong sing kepengin sinau sujarah Jawa kudu lunga menyang Kabupaten Malang amarga Kraton Hindhu Majapahit lan Singosari duwe pusat neng wilayah kuwi.
candi neng Singosari candi Badut
Nanging uga ana mahasiswa-mahasiswa pinter sing sinau neng Malang lan ora neng kutha liyane. Jarene cacahe mahasiswa neng Malang munggah saben taun dene cacahe mahasiswa neng kutha liyane (kaya Jogya) mudhun. Mula ana jenenge liyane kanggo kutha Malang yakuwi kutha pelajar. Pemkot Malang dimongkogake babagan kuwi dadi Pemkot uga duwe program-program kanggo mbiyantu mahasiswa-mahasiwa kaya "gratis hot spot", tegese taun kepungkur Pemkot kuwi bangun 75 papan "hot spot" kanggo masyarakat.
Saben taun ana akeh kegiyatan kanggo lan saka masyarakat Malang, contone "Karnaval Kembang", "Malang Kembali Festival", "Karnaval Lampion", "Malang Marathon" lan liya-liyane.
Malang kembali tukan pemen karnaval lampion
Amarga iklim neng Malang adhem akeh wong 'olah-ragan'. Mula Malang uga duwe club bal-balan sing kondhang: Arema Malang. AREMANIA

Keluarga Dally masih di Malang

October 08, 2007 - Volker Dally

Sudah lama kami tidak menulis cerita untuk weblog ini. Kami masih di Indonesia. Juga semua sangat senang di sini.

Lea baru mulai sekolah bulan Augustus. Dia sangat suka belajar membaca dan lain lain. Setiap malam sebelum saya membaca buku kepada dia, Lea mau membaca buku kepada saya. Dia rajin sekali.null


Tahun ini lebih mudah untuk Jona karena dia sudah berbicara dan mengerti bahasa Inggris dengan baik. Kadang-kadang dia sudah mulai mengoreksi bahasa Inggris saya. Ketika kami belajar untuk Spelling-Test dia bilang kepada saya: "Mama, kalau membaca kata dengan pengucapan yang salah, saya tidak bisa menulis dengan benar.null

Mungkin tidak lama lagi anak-anak saya mulai mengoreksi bahasa Indonesia saya juga. Ini sangat frustrasi untuk saya.

Apa yang sudah kami buat sampai hari ini?

Ya, pasti ada banyak hal. Ya, yang apa saya tulis?

Kami sudah pergi ke gunung Bromo dua kali. Pertama kali kami pergi ke view point jam 3.30 pagi. Pasti semua gelap di sana. Ketika matahari mulai terbit, saya mau mencari gunung Bromo. Tetapi di dalam Caldera ada dua gunung. Gunung Batok dan gunung Bromo. Yang mana ada gunung Bromo? Matahari naik dan saya bisa melihat asap datang dari satu gunung. Ini gunung Bromo.null

Ketika matahari terbit kami turun ke gunung Bromo. Jona dan Lea naik dengan kuda ke gunung Bromo. Volker dan saya jalan kaki saja. Di atas kami bisa melihat dalam krater. Jona bilang bahwa bau dari gunung Bromo sangat berbau. null
Sesudah melihat Bromo kami membeli kentang di sana. Di daerah Tengger ada banyak kebun kentang. Semua anggota keluarga saya suka kentang. Kentang sangat enak.

Ada apa lagi?

Kami sudah pergi ke Sendang Biru beberapa kali. Kami naik perahu ke pulau Sempu dan jalan kaki ke laut kecil. Di sana kami bisa berenang dan kami merasa sangat senang. Sesudah bersantai di pulau Sempu Pak Volker pasti mau membeli ikan di sana karena sangat segar dan murah sekali. Biasanya kalau kami membeli ikan di Sendang Biru, Ibu Hari harus datang dan membantu untuk membersihkan dan memontong ikan untuk kolkas. Karena saya tidak suka memegang ikan.

Indah sekali!

January 30, 2007 - Volker Dally
Pada waktu kami tinggal di Yogya saya suka melihat Gunung Merapi. Setiap pagi ketika kami pergi ke sekolah pandangan mata saya mengarah ke Gunung Merapi di sebelah utara. Saya bertanya diri-sendiri apakah Gunung Merapi menghilang di awan ataukah gunung itu bisa terlihat? Setiap kali saya bisa melihat Gunung Merapi saya terpesona. Satu kali kami pergi ke Kaliadem. Di sana kami melihat daya perusak dari kekuatan Gunung Merapi. Dalam waktu cepat kekuatan alam itu bisa merusak hutan, rumah dan juga dua orang meninggal di sana. Kekuatan dan keindahan dari Gunung Merapi itu sangat mengesankan saya. Meskipun kelihatan indah dari Yogya dan damai, gunung itu sangat berbahaya.

Sesudah kembali ke Malang kami mau tahu apakah kami bisa melihat Gunung Semeru dari Malang. Kami bertanya beberapa orang, tetapi semua bilang tidak bisa. Sekarang saya bisa menyimpulkan bahwa kami tidak bisa melihat Gunung Semeru karena terlalu banyak awan. Tetapi kami mengerti Gunung Semeru tidak pernah bisa terlihat dari Malang.
Kami pikir untuk melihat Gunung Semeru kami harus pergi ke Gunung Bromo. Kami akan pergi ke Gunung Bromo tetapi sampai sekarang masih ada banyak acara lain. Jadi kami belum bisa pergi ke sana.

Ketika liburan di sekolah anak-anak kami pergi ke Bali. Kami suka Bali tetapi ini adalah cerita lain.

Ketika kami kembali, kami naik lewat selatan (Banyuwangi, Jember, Lumajang, Turen dan Malang). Sampai di Lumajang jalannya mendaki. Kami melihat panorama yang bagus sekali. Kami melihat daratan sampai laut. Sesudah ini kami bisa melihat satu gunung besar, yang aktif dan juga dekat. Volker menhentikan mobil sehingga kami bisa melihat gunung yang indah itu. Yang tiba-tiba ada awan abu keluar dari puncak gunung. Wah, ini Gunung Semeru. Semua keluarga menjadi senang sekali. Sesudah 5 bulan di Malang akhirnya kami menemukan Gunung Semeru. Gunung Semeru dari selatan
Beberapa kali kami turun dari mobil untuk melihat keindahan Gunung Semeru dan juga awan abu di puncak. Jam 6 sore kami pulang ke rumah kami. Semua senang karena hari ini kami mengalami hari yang bagus. Kami menemukan Gunung Semeru! Hari berikutnya kami mau pergi ke supermarket naik mobil. Kami sangat heran, karena kami bisa melihat Gunung Semeru dari rumah kami. Sesudah 5 bulan kami melihat gunung itu, tetapi kami tidak tahu kalau gunung itu adalah Gunung Semeru.
Gunung Semeru dari rumah kami
Kadang-kadang saya pergi ke luar. Mata saya pandangan mengarah Gunung Semeru dan awan abu. Kira kira setiap 15 menit abu keluar dari gunung dan saya tahu, semuanya beres!

Waktu yang hilang

October 03, 2006 - Volker Dally
Waktu sudah mendesak sekali sehingga saya menulis sesuatu baru untuk weblog ini. Sampai sekarang kami sudah tinggal dua bulan di Malang, akan tetapi kami masih merasa kalau kami baru saja sampai di sini. Wah, waktu menghilang. Khususnya karena setiap hari kami menemukan sesuata baru dan, yang jauh lebih penting, kami bertemu orang-orang baru. Selain itu ada banyak acara dilakukan oleh GKJW, oleh sekolah-Wesley dan juga di dalam keluarga.
Sekarang saya mengunjungi jemaat-jemaat GKJW. Yang terakhir saya pergi ke Jemaat Lenggosono, satu desa terletak dekat pantai. Pantai Lenggosono
Warga jemaat membuat pesta untuk merayakan ulang tahun ke-40. Desa itu adalah desa kecil dan jalan ke desa itu makin dekat desa jalan makin kecil. Akhirnya tidak ada jalan hanya sungai saya harus naik mobil. Jalan Sungai!
Tetapi saya sangat senang di Lenggosono karena pesta itu menarik sekali, misalnya pertunjukan Wayang yang saya lihat pertama kali selama saya tinggal di Indonesia. Saya sedikit heran karena orang-orang duduk di belakang orang yang mempergelarkan cerita.
Di mana lebih baik? Di belakang atau ... ...di depan?
Tentu saja banyak makanan sudah dibuat untuk pesta dan kebagtian yang kami rayakan bersama-sama. Akhir minggu depan saya pergi ke Banyuwangi kemudian akhir minggu ini saya ikut pergi ke Pacitan. Sesudah kunjungan tersebut saya bertemu jemaat-jemaat yang terletak paling barat dan paling timur di dalam daerah GKJW.
Omong-omong, untuk membuat pesta: Minggu lalu Jona berumur 7 tahun dan kami membuat pesta ulang tahun Hari Jumat. Jona menundang semua teman-teman sekelasnya. Semua anak-anak datang jadi kami bermain-main dengan 11 anak dan tentu saja kami makan bersama. Jona dan teman baru Anak-anak mencari harta Jona bahagia bahwa semua teman datang dan terus-terang kami sedikit bangga karena kami pikir semua anak sekelasnya suka Jona. Mungkin guru-guru di WB Yogya masih ingat bahwa Jona suka bermain dengan ikan-ikan. Sekarang dia punya Aquarium dan setiap hari keluarga duduk di depan Aquarium seperti di depan TV. Saya pikir menonton ikan di dalam Aquarium lebih baik meskipun kadang-kadang tidak ada "action".
Tetapi di lalulintas jalanan ada sedikit "action". Saya sudah menerima denda dua kali karena melanggar peraturan lalulintas. (Dan sulit untuk berdiskusi dengan petugas polisi apakah saya membuat kesalahan atau tidak. Jadi saya membayar hukuman.)
Kami mengharap bahwa weblog ini masih dibaca, kalau begitu, tolong masuk komentar!

Terlalu sibuk

September 15, 2006 - Volker Dally
Sekarang saya terlalu sibuk untuk laporan baru. Sampai minggu depan kalian harus membaca weblog di dalam bahasa Jerman. Saya mohon maaf.

Adaptasi di Malang

August 12, 2006 - Volker Dally
Sejak sekarang kami tinggal di Malang beberapa hari. Tetapi kami masih harus mengadaptasi. Mobil sudah kami beli. Mobil ini Kijang hitam yang baru. Sebenarnya terlalu mahal untuk kami, tetapi organisasi saya, UEM (Tolong lihatlah link) membantu. Dan semua orang di sini pikir untuk pekerjaan saya mobil baru lebih baik daripada tgn2 karena saya harus punya mobil yang cukup kuat untuk mengunjungi gereja kedesaan. Jadi kami membeli mobil baru. Sekarang kami menunggu untuk nomor mobil sebab Ibu Katja dan saya belum boleh naik mobil keluar. Kami hanya praktek di dalam kampus GKJW saja.
Untuk sekolah kami harus pergi tiga kali per hari. Jam tujuh pagi untuk anak-anak mengantar ke sekolah, dan jam setengah duabelas kami harus menjemput Lea dan nanti jam setengah tiga sore Jona juga.
Keduanya masih bercerita tentang guru-guru mereka punya di Yogyakarta. Sebagai kenang-kenangan akan foto dicetak orang tua. Foto yang ini kami mencetak
Saya mencoba belajar bahasa Indonesia sendiri, tetapi minggu depan saya mau mulai dengan seorang guru. Tetapi kami punya banyak praktek dan pengalaman baru. Informasi yang penting di sini, terima kasih Geger!
Rumah kami juga masih perlu perabot dan rumah ini, nama rumah Emde, harus didekorasi oleh semua keluarga. Ruang Emde (Kalau pembaca yang terhormat mau tahu siapa Yohannes Emde, tolong bacalah weblog bahasa Jerman.) Untuk kommunikasi kami sudah punya hubungan telpon dan internet.
Jona dan Lea bermain dengan orang-orang yang tinggal di kampus juga. Sekarang mereka bermain sepak-bola. Anak-anak sangat bahagia dan kami sangat senang juga.

Jona dan Lea mulai sekolah atau TK

August 09, 2006 - Volker Dally
Hari ini hari yang penting sekali untuk Jona dan Lea karena mereka mulai sekolah.
Kedua-duanya sangat bangga padahal Lea punya sedikit kesulitan karena hari ini hari pertama untuk dia tanpa kakak sejak bulan April. Tetapi guru-guru dari TK punya cukup waktu untuk semua anak-anak jadi akhirnya Lea merasa senang juga.
Lea dan semua anak-anak di dalam kebun TK Ruang untuk TK dan kelas 1 Sekolah Wesley di Malang
Di dalam kelas Jona adalah hanya 10 anak saja, 3 anak laki-laki dan 7 anak perempuan.
Dia harus pergi ke sekolah dari jam 7.30 pagi sampai 2.30 siang. Meskipun waktu lama untuk hari sekolah yang pertama Jona sangat bahagia dan kemudian pekerjaan rumah dibuatnya juga.
Jona di dalam kelas dengan guru Jona Pengintaian pertama Pekerjaan rumah
Hampir kami punya bayi anjing. Anjing itu diselundupkan Jona dan Lea di dalam karton ke rumah kami. Tetapi anjing itu ditemukan orang tua. Akhirnya kami bisa menjelaskan Jona dan Lea bahwa lebih baik kalau anjing kembali ke ibu anjing. Barang selundupan
Sekarang kami sibuk mengorganisasikan kehidupan baru di Malang. Kadang-kadang kami rindu guru-guru dari WB; sering kami rindu bantuan mereka.

Terima Kasih!!!!

August 03, 2006 - Volker Dally
Saudara-saudara dan pasti saudari-saudari yang kami hormati!

Sesudah belajar bahasa Indonesia atau bahasa Inggris selama sebelas minggu
kami mau memakai weblog ini untuk menyampaikan beberapa patah kata.
Karena saya tidak belajar cukup keras, saya hanya akan menulis lebih banyak kata daripada di dalam novel biasa. Kami tidak tahu apakah adalah kemungkinan bahwa guru-guru tidak cukup memperkudakan kami.
Terus-terang, saya tidak akan menulis novel, dan guru-guru memperkudakan kami tentu saja, jadi kami merasa sedikit capai, tetapi sangat senang juga.
Pada perpisahan malam dengan guru-guru Masih mengajar dan belajar
Pertama-tama kami ingin mengucapkan terima kasih banyak atas keramah-tamahan kalian dari WB selama kami sampai di Yogyakarta.
Sambutan waktu kami tiba hangat sekali seperti kita sudah lama berkenalan.
Kami berterima kasih atas segala bantuan yang guru-guru dan staff berikan kepada kami pada hari-hari pertama.
Tanpa pertolongan itu pasti lebih sulit untuk menyesuaikan diri di budaya dan kehidupan di negera Indonesia.
Tetapi, besok lusa kami harus berbicara kepada kalian: Selamat tinggal.
Dengan satu pantum saya mau memberi harapan yang kami punya bahwa kami akan bertemu dengan satu sama lain kali:
di Yogya, di Malang dan pasti di surga.
(Saya percaya apokatastasis panton, dan guru Heri bisa menjelaskan kalian arti apokatastasis panton nanti. Kalian hanya harus bertanya Heri!!!)
Sebelum pembaca yth pergi ke Heri, pantum itu:

laju, laju mobilku laju
sudah waktunya kami pulang
lupa buku, lupa ilmu,
tapi jangan lupakan kami di Malang.

Akhirnya! Kalau kami pernah menghinakan kalian dengan kata-kata atau dengan tingkah-laku, kami mohon maaf.
Untuk semua pengalaman kami dengan kalian; kami bilang: Terima kasih, terima kasih, terima kasih.
Semoga Allah selalu memberkati kita semua.

Kaliadem

July 27, 2006 - Volker Dally
Hari ini hari sangat mengesankan. Jam delapan kami berangkat untuk darmawisata ke Kaliadem. Sejak minggu ini Ibu Katja dan saya punya kelas sendiri, jadi kami bisa pergi dengan dua guru. Guru Mas Geger, guru Mas Totok dan sopir Mas Heru menjemput kami di rumah kami di Jalan Pringgodani. Bersama-sama kita naik mobil ke gunung Merapi.
Ketika naik mobil saya membeli koran dan mulai membaca koran ini. Di halaman tentang Yogyakarta saya membaca bahwa dua orang ditemukan di pantai. Mereka meninggal karena Tsunami minggu lalu. Sesudah koran bacakan saya kepada Ibu Katja, kami menetuskan bahwa akhir minggu ini kami tidak pergi ke pantai. Kalau pembaca weblog ini tahu tempat bagus lain, tolong memassukan ide dengan komentar di bawah.
Kira-kira jam setengah sepuluh kita sampai di Kaliadem. Sesudah turun mobil untuk pergi sedikit dekat gunung Merapi kita punya masalah. Masalah ini karena di sana ada tulisan yang bilang bahwa pakaian warna merah, kuning dan orange dilarang. Astaga, baju merah atau kuning terpakai semua keluarga Dally. Untunglah ada satu sweater di dalam mobil. Sweater ini harus dipakai Ibu Katja Ibu Volker dengan pulllover merasa panas sekali
dan saya sudah mengenakan t-shirt putih yang biasa dipakai di bawah baju kuning. Jona dan Lea boleh pergi ke tempat dengan warna dilarang.
Dengan guru Geger dan pemandu lokal, Totok harus memfotoPada tempat itu kami melihat kekuatan gunung Merapi. Semua tempat menyelebungi dengan abu dan batu-batuan dari letusan gunung Merapi tanggal 14 Juni. Dari rumah-rumah yang tersisi di sana Anda hanya bisa melihat atap-atap. Hanya Atap-atap yang Terlihat Pengunjung
Dan awan panas membuat jalur besar pemisah antara dua bagian pepohonan di tengah hutan karena batu-batuan dan api. Ibu Katja dan saya merasa tergesankan ketika kami mendengarkan suara dari gunung Merapi. Meskipun jauhnya 5 kilometer kami bisa mendengarkan Merapi bergemuruh. puncak merapi Jona dan Lea dengan mask
Sesudah melihat tempat ini kami pergi ke sungai kecil, saya pikir nama kali kuning untuk perjalanan kaki dengan anak-anak dan guru-guru. istirahat ketika perjalanan Bermain di pinggir sungai
Akhirnya kami harus menyelesaikan perjalanan ini karena waktu yang tepat untuk makan siang. Sambil makan siang semua orang dewasa menerima panggilan telepon oleh teman-teman, teman kerja atau pacar. Kita punya banyak kelakar di restoran karena aktivitas telepon. sesudah perjalanan dan sebelum makan siang
Kami bersenang-senang hari ini. Terima kasih Geger, Totok dan Heru.
Terima kasih Tuhan yang memberkati kita.

Peserta di Sidang Majelis Agung in Madiun

July 27, 2006 - Volker Dally
Empat minggu lalu saya menerima sepucuk surat dari GKJW (= Gereja Kristen Jawi Wetan). Surat ini dikirim Pak Tjondro yang bekerja sebagai sekretaris GKJW selama bertahun-tahun meskipun dia masih muda. Saya pikir bahwa umur dia tidak lebih tua daripada 35 tahun. Surat itu dia tulis untuk informasi tentang Sidang Majelis Agung di Madiun, tanggal 29 Juni sampai 04 Juli 2006. Pak Tjondro menulis juga bahwa pimpinan GKJW mengundang saya.

Meskipun saya harus belajar bahasa Indonesia di WB setiap hari, kecuali akhir minggu, saya mau pergi ke Madiun.
Tetapi bagaimana? Setahu saya wakil ketua Gereja Kristen Jawi Wetan/Gereja Kristen jawa Timur (GKJW) tinggal di Yogyakarta. Namanya Pak Budyanto. Dia bekerja sebagai direktur universitas Duta Wacana dan saya sudah bertemu dia. Jadi saya menelpon dia dan bertanya apakah dia pergi ke sidang di Madiun. Dia bilang bahwa dia sudah pergi hari rabu tgl. 28 Juni ke Madiun dengan mobilnya. Dan dia bilang juga bahwa, kalau saya mau, saya bisa pergi berikut dia. Saya senang sekali karena kesulitan saya untuk transportasi dipecahkan.
Hari Rabu tgl. 28 Juni jam dua siang saya dijemput oleh Pak Budyanto dengan mobil di rumah homestay Heru. Sesudah kita memuatkan koper saya ke mobilnya kita berangkat. Mulai dari sekarang saya punya pelajaraan keras: selama empat setengah jam saya harus berbicara bahasa Indonesia karena saya tidak bisa turun mobil. Untunglah Pak Budyanto seorang pintar yang tahu bahwa saya hanya belajar bahasa Indonesia selama empat minggu. Oleh karena itu dia berbicara jelas dan pelan jadi saya mengerti dia bagus.
Ketika kita pergi ke Madiun kita mendiskusikan tentang gempa bumi di Yogyakarta dan baigamana GKJW dan universitas Duta Wacana mencoba membantu orang-orang di Yogyakarta khususnya baigamana mereka menolong Kristen sesudah pertolongan pertama kepada semua orang. Misalnya mereka membantu umat kristen yang gerejanya rusak. Di satu bagian di kota mereka membangun gereja dari bambu. Hari-hari berikutnya ini saya mau mengunjungi gereja itu.
Sesudah empat jam percakapan ketika naik mobil kita sampai di Madiun. Di sana kita mencari tempat untuk Sidang Majelis Agung, tetapi Pak Budyanto harus bertanya beberapa kali untuk jalan itu yang betul. Akhirnya kita sampai di tempat tujuan jam setengah tujuh. Saya lelah sekali dan sesudah mandi dan makan malam saya pergi ke hotel. Langsung saya tidur di sana.
Hari berikutnya sesudah sarapan saya naik becak ke stasiun kereta api. Karena Pak Budyanto harus tinggal di Madiun sampai Sidang Majelis Agung (SMA) selesai, tetapi saya harus kembali ke Yogyakarta untuk pelajaran di Wisma Bahasa saya sudah mau membeli karcis kereta api dari Madiun ke Yogyakarta pada hari minggu. Karcis Sancaka yang berangkat hari minggu pagi saya beli.
Sesudah pembelian karcis saya pergi ke Sidang Majelis Agung. Di mana saya mengambilbagian dewan Personalia Majelis Agung. Mula-mula saya harus memperkenalkan diri. Sesudahnya ketua bertanya saya apakah saya siap untuk pelantikan sebagai pendeta GKJW pada hari minggu. Pertanyaanya sama sekali tidak saya duga. Tetapi dia menjelaskan bahwa semua pendeta bekerja di GKJW selalu harus dilantik ketika SMA. Kalau saya tidak siap, saya harus menunggu sampai SMA depan. Tetapi saya tidak mau menunggu sampai tahun depan karena saya tidak bekerja sebagai pendeta sejak lama. Sejak saya tahu bahwa saya pindah ke Indonesia saya sudah tidak bekerja hanya belajar selama tujuh bulan tentang budaya dan bahasa Indonesia dan di Jerman saya bersiap-siap untuk menghadapi perpindahan keluarga saya. Saya setuju atas usul dari ketua Pak Drijandi meskipun saya tahu bahwa saya belum berbicara bahasa Indonesia lancar, tetapi mungkin cukup untuk pentahbisan.
Mulai dari sekarang saya mempersiapkan untuk ibadah hari minggu. Oleh karena itu pertama karcis kereta api saya harus ditukarkan oleh seorang dari GKJW Madiun. Saya juga harus pergi ke toko foto untuk foto-foto karena untuk surat piagam foto diperlukan dalam piagam.
Kemudian saya belajar Tata Ibadah sehingga saya bisa jawab bila ketua bertanya pendeta baru di ibadah. Selain daripada itu jubah diatur secretaris kepada saya.
Sesudah tiga hari mempersiapkan saya mengalami ibadah sangat bagus.
Tetapi ibadah itu ada cerita berbeda.

Laporan Pendek Tentang Kunjungan Kraton, Khususnya Untuk Guru Geger

July 25, 2006 - Volker Dally
Sesudah tinggal di Yogyakarta selama dua bulan,minggu lalu kami memutuskan bahwa kami harus mengunjungi Kraton Yogya. Jadi kami bertanya Mas Agung untuk darmawisata minggu ini.
Tiga hari lalu, Hari Senin, kami melihat ketika membaca jadwal bahwa kami pergi ke Kraton dengan guru Geger Hari Kamis.
Sekarang, jam empat sore Hari Kamis, saya mengetik laporan sesudah pulang.
Tadi pagi sesudah sessi 1 Ibu Katja, anak-anak dan saya berangkat dengan sopir Mas Heru dan guru Mas Geger dari Wisma Bahasa I ke Kraton. Sebelumnya Geger memberi harapan akan menjadi pemandu untuk anak-anak di Kraton. Oleh karena itu kami bisa mengunjungi Kraton dengan pemandu Kraton sementera Geger menjelaskan Kraton kepada Jona dan Lea di bahasa Inggris.
Pertama-tama karcis Kraton dibeli Geger. Ketika kami sampai di pintu masuk sudah ada pemandu untuk Katja dan saya. Biasannya di Kraton ada pemandu yang berbicara bahasa Jerman tetapi sekarang Kraton dijelaskan pemandu kami dalam bahasa Indonesia. Saya pikir pemandu diinstruksikan guru Geger berbicara bahasa Indonesia. Tidak apa apa, kami sudah mengerti cukup bahasa Indonesia.
Pertama kami pergi di pintu Danapratapa. Di depan pintu ada dua patung besar sebagai penjaga. Kraton dijaga oleh penjaga pintu gerbang ini, yang kiri baik dan yang kanan jahat, padahal penjaga ini dari batu . Di dalam Kraton kami melihat rumah Sultan X, ruang pesta dan ruang makan. Kami pergi ke museum juga dan pemandu memberi banyak informasi tentang Sultan sekarang dan Sultan dulu. Terlalu banyak informasi untuk weblog ini. Sesudah satu setengah jam kami selesai kunjungan kemudian pergi ke FM Cafe untuk makan siang. Kami bersenang-senang hari ini. Terima kasih Geger dan Heru.